0
Rumus Jitu Bisnis Ini Banyak Dilakukan Orang, Tapi Tak banyak yang Tahu

Rumus Jitu Bisnis Ini Banyak Dilakukan Orang, Tapi Tak banyak yang Tahu

Mungkin ada diantara Anda saat ini ada yang sedang:

– Berjualan tiap hari tapi tak kunjung laris
– Buat produk baru tapi gak laku-laku
– Berusaha maksimal tapi hasilnya minimal
– Bisnis siang-malam tapi minim penghasilan

…dan masalah serupa.

Sebenarnya, bukan salah Anda jika hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan keinginan. Mungkin Anda perlu sedikit belajar, bahkan hanya sekadar mengubah cara pandang dan cara main bisnis yang sedang Anda jalankan.

Oleh karenanya, melalui tulisan ini, Saya ingin kembali mengingatkan Anda tentang esensi bisnis yang seharusnya. Hal-hal inilah yang harus kita lakukan agar hasil yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan.

Apa saja itu?

Pertama, MELUASKAN NIAT.

Ya, MELUASKAN, bukan hanya sekadar meluruskan, karena kalau cuma lurus, itu harus!

Jika kebanyakan orang berbisnis hanya untuk memperkaya diri dengan profit yang didapatnya, maka tugas kita kedepannya jangan pernah berpikir seperti itu.

Alhasil, tujuan berbisnis bukan untuk memperkaya diri, apalagi menyombongkan diri. Tidak. Bukan itu tujuannya.

Lantas apa?

Coba luaskan niatnya…

Misalnya, niatkan untuk URUSAN UMMAT. Ya, ummat. Membantu saudara-saudara kita sesama muslim khususnya dan warga Indonesia pada umummya.

Rasulullah bersabda;

“Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang, padahal tetangga yang di sampingnya dalam keadaan lapar, sedangkan ia mengetahuinya”. (HR. At-Thabrani)

Hadits di atas menunjukkan bahwa kita mesti peduli dengan urusan orang-orang di sekitar, termasuk tetangga kita sendiri.

Jangan sampai, kita sudah berada dalam kondisi, “Makan enak apa hari ini?”, sementara saudara-saudara kita masih kesulitan, “Makan gak ya hari ini?”.

Jangan sampai hal itu terjadi…

Itulah kenapa, hasil dari bisnis, alangkah baiknya digunakan untuk kepentingan ummat. Itung-itung bekal akhirat… Sepakat?

Apa lagi?

Selain meluaskan niat untuk urusan ummat, juga niatkan untuk OBSESI AKHIRAT.

Ya, akhirat, jadi proses dan hasil bisnis yang didapat, diniatkan untuk kepentingan akhirat, bukan dunia semata.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, dan dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina.

Barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja.” (HR. At-Tarmidzi)

Bayangkan, kalau diniatkan untuk akhirat, Allah menjanjikan kita 3 hal:

1. Dicukupkan hatinya
2. Dipermudah urusannya
3. Tidak diperbudak dunia

Sedangkan kalau diniatkan untuk dunia, Allah pun menjanjikan kita 3 hal:

1. Kemelaratan
2. Dipersulit urusannya
3. Diperbudak dunia

Sekarang, mana yang Anda inginkan? Yang pertama atau kedua?

Tentu, orang sholeh dan sholehah seperti Anda, menginginkan yang pertama, bukan?

Karenanya, yuk evaluasi diri, kalau saat ini niat bisnis kita hanya untuk dunia saja, maka siap-siaplah nanggung risikonya. Celaka!

Ubah segera niatnya. Luaskan… Niatkan untuk bekal akhirat.

“Tapi apa gak boleh diniatkan supaya dapat untung?

Jawab: ya tentu boleh, bisnis harus untung, kalau rugi mulu, gak usah bisnis. Hehe

Lagian, Allah pun berfirman:

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan bagi dirinya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan padanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)

Nah, kan…

Kalau baca ayat di atas, mending diniatkan untuk akhirat, kan? Toh keuntungan dunia pun sama Allah bakal dikasih. Asik?

Kedua, MEMAKSIMALKAN IKHTIYAR.

Banyak dari kita hanya ‘mendewakan’ ikhiyar buminya saja dalam berbisnis. Ini tidak salah, tapi juga tidak benar. Ilmu teknis bisnis itu penting, tapi bukan yang terpenting.

Anda memang harus pahami:
– Business Model Canvas
– Blue Ocean Strategy
– Benchmarking Strategy
– 5 Ways to Increase Profit
– Digital Marketing
– Ilmu Branding
– Selling, Copywriting, Story Telling

…dan ilmu-ilmu bisnis lainnya

Tapi, itu saja tidak cukup. Tepatnya, belum maksimal. Kenapa?

Karena usaha Anda dikatakan maksimal jika sudah menyempurnakan ikhtiyarnya dengan IKHTIYAR LANGIT.

Apa itu?

Ibadahnya ditingkatkan…

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Tholaq: 2-3)

Kalau awalnya sholat belang bentong, sekarang lebih rajin, tepat waktu, dan berjamaah…

Kalau awalnya cuma rajin baca status, sekarang lebih rajin baca Qur’an…

Kalau awalnya jarang bangun malam, sekarang lebih rajin sholat tahajud…

…dan amalan-amalan harian lainnya.

Juga, Silaturrahminya dijaga…

“Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia melakukan silaturahim.” (HR. Bukhari & Muslim).

Yang pernah punya musuh, ayo maaf-maafan…

Yang kesel sama orang, ayo buruan minta maaf..

Yang gak pernah ketemuan, ayo ajak kopdar dan sambung silaturrahminya…

Jangan online melulu!

Mentang-mentang era digital, sampai-sampai lupa silaturrahmi offline… tatap muka, face to face, salaman.

Apa lagi?

Sedekahnya diperbanyak…

“Wahai orang yang beriman, berinfaklah kamu atas sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang tidak ada jual beli lagi dan tidak ada lagi persahabatan serta syafa’at kecuali atas izin Allah.” (QS. Al-Baqoroh: 254)

Sedekah paginya, tiap hari…
Setiap nasinya, tiap jumat…
Sedekah brutalnya, tiap bulan..
Sedekah ke orang tua dan kerabat, jangan lupa…

Pokoknya: sedekah. Sembunyi-sembunyi boleh, terang-terangan boleh. Yang gak boleh, terang-terangan gak sedekah, cuma komen dan nyinyir doang hobinya. Halah! Jangan sampai ya…

Terakhir, Taubatnya dipersering…

“Dan bertaubatlah Kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS. An- Nuur: 31)

Rasul itu istighfar setiap hari minimal 70x, bahkan lebih. Lha kita? Kadang cuma 3x sehari, udah kaya minum obat. Parah! Belum ada jaminan surga pula. Astagfirullah…

Yuk berubah…
Optimalkan ikhiyar langitnya. Semuanya.

Ya, semuanya itu mesti dilakukan, tanpa terkecuali. Karena bagaimanapun juga, dunia ini milik Allah. Tugas kita ya mendekati Allah. Minta sama Allah…

Ketiga, MEMASRAHKAN DIRI.

Setelah semuanya dilakukan, jangan mengungkit-ngungkit ikhtiyar kita di masa lalu. Serahkan sepenuh sama Allah. Pasrah..

Jangan begini:

“Sedekah perasaan udah, tapi kok gak ngefek aja ya…”

“Tiap hari udah tahajud, tapi kok hidup masih susah aja ya…”

“Usaha udah jor-joran dan maksimal, tapi kok hasilnya gini-gini amat ya…”

…dan seterusnya.

Jangan ngeluh. Jangan putus asa. Jangan nyerah gitu aja. Jangan cengeng gitu…

Tugas kita adalah Pasrah. Tawakkal sama Allah. Biarkan skenario terbaik-Nya yang berjalan. Kita terima seutuhnya.

Termasuk saat jualan. Jangan banyak ngarep sama orang, termasuk calon pelanggan. Pas ditolak pun, jangan baperan. Lebay! Next aja, cari pelanggan lainnya…

“…Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali Imran (3): 159).

Demikian 3 pengingat buat kawan-kawan yang ingin urusan bisnisnya dimudahkan oleh Allah: luaskan niatnya, maksimalkan ikhtiyarnya, pasrahkan hasilnya.

Semoga bisnis kita semua diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadi pemberat timbangan amal kebaikan kita di akhirat kelak. Aaamiin…

Silakan dishare lintas sosmed.
Semoga bermanfaat.

by. Kang Dewa

Leave a Reply